Rabu, 10 Oktober 2018

Dear diriku ...

Dear diriku ...

Bismillah.. untuk diriku yang sudah bersedia berjuang menjadi lebih baik, yang jarang sekali aku ucapkan terima kasih, boro-boro memberi hadiah.

Terima kasih sudah mau menerima egonya nafsu, firasat hingga keputusan yang tidak wajar. Masih sangat panjang perjalananmu bersamaku, aku masih membutuhkan keikhlasan, ketegaran dan kewarasanmu. Mari saling menguatkan dan tentunya menggandeng serta digandeng Allah.

Kali ini, keputusan yang akan kamu ambil bersamaku adalah keputusan yang akan menggetarkan ars-Nya, mengikat janji langsung kepada Maha pemberi janji dan menepati janji.


Perjanjian yang Allah sukai dan Iblis benci setengah mati.

Sudah yakin?

InsyaAllah.. mari diriku, kita mengarungi serta menahkodai kapal kecil ini bersama seorang putri yang engkau telah dapatkan izin dari orangtuanya serta milik-Nya.

Ingat, apa yang terjadi di kapal kecil itu kelak, akan menjadi tanggung jawabmu bersamaku, wahai diriku. Kekurangan itu sunatullah, dan saling memperbaiki adalah ikhtiar berbuah ridho dari-Nya kelak.

Jadi, menyalahkan masa lalu itu wajar namun saling mendukung untuk masa depan itu wajib di setiap detik bersama putri ini. Agar menjadi lebih dewasa, lebih mandiri hingga lebih bermanfaat untuk sekitar.

Nikmati dengan sabar serta syukur, kuncinya itu dan harus kamu, wahai diriku ingat baik-baik.

Bismillah.. biidznillah..

Bersama itu adalah jalan untuk Allah menurunkan ridho-Nya ketika masa perhitungan.

Wahai putri, mari berjuang bersama :)
Baca selengkapnya

Rabu, 19 September 2018

Minggu, 16 September 2018

Sebuah Konsekuensi ...

Sudah setengah jam lebih Kugy memandangi ransel besarnya yang tergeletak di lantai dalam keadaan kosong. Sudah sedari tadi seharusnya ransel itu terisi. Sudah sedari tadi pula dirinya harus bersiap dan berangkat ke stasiun kereta api. Namun, sedari tadi Kugy diam di tempat duduknya. Membayangkan apa yang terjadi jika ia tidak datang, sekaligus apa yang terjadi ia jika hadir di pesta itu.

Jika ia tidak datang, Noni pasti kecewa. Dan, makin genaplah simpulan sahabatnya itu bahwa ia memang berubah, menghindar, dan menjauh. Jika ia datang, hatinyalah yang remuk
Penggalan dua paragraf di dalam Novel 'Perahu Kertas' yang menggambarkan betapa suasana kebingungan ketika seseorang dihadapkan dua buah pilihan beserta konsekuensinya. Ia harus memilih diantara keduanya, tidak ada pilihan ketiga ataupun keempat.

Mari berjalan bergandengan tangan dengan erat bersama konsekuensi yang telah dipilih. Tentunya dengan senyuman.

Sabar.. hidup di dunia tidaklah lama..

Pasti ada teman :)





Baca selengkapnya

Menulis kembali

Sering sekali diri ini hanya membuka lembaran putih di entrian blog ini. Terpaku, bingung merangkai kata. Padahal saat tidak dalam posisi menulis, banyak hal yang ingin dicurahkan. Ah wacana. Atau lebih kepada takut tulisan ini tak ada nilainya sama sekali.

Sudah empat bulan terhitung terakhir menulis, itu pun tulisan yang terstimulus oleh keadaan -yang akhirnya diriku sudah berdamai dengan keadaan.

Jadi teringat jumat pekan lalu, saat kumpul klub FLP. Materi yang kita bahas, apakah sebuah tulisan wajib ada nilainya? Saya mencoba memancing dengan meminta seluruh anggota klub memilih, iya, setengah-setengah atau tidak.

Dari 5 yang hadir, 2 menjawab iya ahrus ada nilai, 2 lainnya setengah-setengah dan 1 menjawab tidak.

Yang menjawab iya, kurang lebih mereka menyimpulkan bahwa tulisan itu harus ada nilainya agar dapat dinilai oleh orang lain sehingga tau bagaimana memperbaiki tulisannya menjadi lebih baik.

Yang menjawab setengah-setengah, kurang lebih mereka mencerna bahwa dalam menulis kadang kalimat yang mengalir begitu saja itu juga sama baiknya dengan tuisan yang sudah dirancang harus ada nilai yan tersampaikan.

Dan yang menjawab tidak, adalah saya. Yang sengaja mencari jawaban paling beda dari semua jawaban, agar menambah wawasan bersama. Saat itu saya hanya sekilas mengingat kalimat yang disampaikan tokoh Kica dalam buku Teman Imaji yang menjadi sandaran alasan saya menjawab tidak.

"Saya tidak ingin menjadi penulis, saya hanya ingin menjadi orang yang me-nu-lis"

Kurang lebih redaksinya seperti itu, kalau salah berarti harus ke-7 kali saya menamatkn buku ini haha..

Kenapa kalimat itu menjadi sandaran alasan saya? karena saya memaknai bahwa menulis ya menulis saja, tuangkan keluh kesah yan ada di hati, pikiran ataupun raga kita. Write, like no one's watching. Bahagiakan diri ini dengan yang membaut kita bahagia.

Tetapi, bukan berarti kita akan selalu menulis tidak bernilai. Jadikan tulisan tak bernilai itu sebagai pemantik untuk membiasakan menulis kembali. Biarkan huruf-huruf, kata, hingga kalima yang pernah dibaca dan ditabung di ingatan kita juga jatuh menjadi tulisan yang kita tulis.

Setelah semuanya menjadi biasa dan mencintainya lagi, naikkan level tulisanmu dengan membawa nilai, eyd rapih hingga ada plot/alur dalam bercerita. Buat apa hidup jika tidak kita isi nilai kan? jangan-jangan dari kertas putih yang mulai menghitam oleh kekhilafan kita, masih ada titik putih yang akan menyelamatkan di akhirat nanti. Sekecil biji sawi.

Oleh sebab itu, mulai petang hari ini, aku ingin menulis kembali, aku ingin mencintai kembali dunia tulis menulisku.. membacanya sudah kebanyakan Ja.


Dan jadikan kesukaanmu ini menjadi gen unggul untuk DNA anakmu kelak jika Allah izinkan. Buatlah gen unggul sebanyak mungkin pada dirimu, agar anakmu bisa lebih baik darimu, Jak.

Baca selengkapnya

Kamis, 24 Mei 2018

Caption Sudah Ada -- People Changes?

Ada yang sibuk menjaga hatinya dengan tidak membalas kabar.. teruslah berubah menjadi lebih baik. Kita pasti punya teman, pasti. Karena teman adalah nikmat dan janji dari Allah.
Baca selengkapnya

Rabu, 23 Mei 2018

Epilog - Pamit


Ed Sheeran - Photograph

Loving can hurt, loving can hurt sometimes
But it's the only thing that I know
When it gets hard, you know it can get hard sometimes
It's the only thing that makes us feel alive

We keep this love in a photograph
We made these memories for ourselves
Where our eyes are never closing
Our hearts were never broken
And time's forever frozen, still

So you can keep me
Inside the pocket of your ripped jeans
Holding me close until our eyes meet
You won't ever be alone, wait for me to come home

Loving can heal, loving can mend your soul
And it's the only thing that I know
I swear it will get easier, remember that we're never repeating ya
And it's the only thing to take with us when we die

We keep this love in a photograph
We made these memories for ourselves
Where our eyes are never closing
Our hearts were never broken
And time's forever frozen, still

So you can keep me
Inside the pocket of your ripped jeans
Holding me close until our eyes meet
You won't ever be alone
And if you hurt me
That's okay baby, there'll be worse things
Inside these pages you just hold me
And I won’t ever let you go
Wait for me to come home
Wait for me to come home
Wait for me to come home
Wait for me to come home

You can keep me
Inside the necklace you bought when you were sixteen
Next to your heartbeat where I should be
Keep it deep within your soul
And if you hurt me
That's okay baby, there'll be worse things
Inside these pages you just hold me
And I won’t ever let you go

When I'm going, I will remember how you kissed me
Under the lamppost back on Sixth street
Hearing you whisper through the phone
Wait for me to come home

***

Kami menjaga cinta ini dalam sebuah gambar
Kami membuat kenangan ini untuk kita
Dimana mata kita tidak pernah menutup hati
Hati kita tidak pernah rusak
Dan waktu selamanya beku, selamanya

Selamanya... 
Baca selengkapnya

Selasa, 15 Mei 2018