Senin, 02 April 2018

Poros Gelombang Keadilan

Didekasikan dalam seleksi calon anggota FLP Yogyakarta X6

“ Aku, FLP dan Dakwah Kepenulisan “ 


Tak semua orang berilmu bisa menuangkan ilmunya dalam tulisan, dan tak semua yang terbiasa menulis bisa berisi ilmu didalamnya. Dan ilmu bukanlah sesuatu yang saklek berisi sebuah rumus fisika ataupun sebuah teori pemikiran konspirasi, bukan.. bukan.. bukan serumit itu. Renungan komik, kumpulan kenangan, ataupun candaan bersama kawan bisa kita buat itu menjadi ilmu, sederhana. Menginspirasi adalah cara memberi ilmu yang paling menguntungkan, dari sudut pemberi dan penerima, karena saat itu pula terjadi transfer positif tanpa bertemu. Efek samping dari vitamin sebuah tulisan. Namun tak semua manusia di dunia ini bersifat malaikat, yang selalu bersemangat mencari senyuman kebaikan. Mereka pun masih ada yang memiliki perilaku iblis, mungkin muka tak bengis namun tulisan mereka miris. Politik devide et empera pun menjadi akhlak mereka, menghilangkan rasa adil dalam hati mereka sudahlah biasa. Selain itu pula ada yang menyesatkan pikiran, hingga perilaku. Yaa.. inilah dunia bukanlah surga ataupun neraka, yang memiliki satu jenis penduduk.

Aku. Sebuah subjek ataupun objek, tergantung bagaimana yang diinginkan dari kata aku itu sendiri. Memilih terdiam menikmati putaran kenikmatan atau bergerak melawan putaran kemaksiatan. Dan aku memilih tulisan ini hadir dengan segala kekurangan yang kumiliki, dengan modal awal bismillah, dakwah kepenulisan ini kujalani. Tulisan tak ber-EYD dengan benar, kalimat boros yang selalu muncul, ataupun kemalasan menuangkan pikiran adalah bekal alasan FLP menjadi tempat tulisan ini dikirim. Pengingat dikala lupa menjangkit, pelurus dikala penerus kemaksiatan berjalan, dan penyemangat dikala kata itu tak ada. Semoga berkah, dan mendapat kritikan terhadap tulisan ini seminimal harapan.

Forum Lingkar Pena, salah satu poros kepenulisan yang semakin bermanfaat dikala jaman menulis paragraf telah berevolusi dengan budaya 160 karakter ataupun status “ Apa Yang Anda Pikirkan “. Warnanya pun jelas dengan bungkus yang tak membuat orang jauh dari karya-karya para pejuang tinta di FLP ini. Dakwah, islam, belajar menginspirasi dan gaul merakyat. Di kala banyak penulis mulai dari inlander ataupun pribumi merebak dengan pemikiran kiri dengan bungkus menarik yang dapat mengubah pola pikir secara tidak langsung bagi yang tidak sadar, FLP hadir sebagai penelur penulis-penulis muda yang dapat mewarnai kekhawatiran di jaman sekarang ini. Sehingga budaya mengabadikan kebaikan dalam tulisan bisa bertahan hingga mewariskan ke jaman-jaman kedepan yang semakin memanjakan manusia dengan segala kemudahan yang didapat, di jaman menunduk bukan untuk menulis namun membaca.

Memberi, mengarahkan hingga membentuk opini khalayak pembaca adalah pekerjaan media. Entah berupa tulisan non-fiksi ataupun fiksi. Dan sudah menjadi hal biasa sekarang mendengar kata ‘porno’ dibandingkan di jaman dahulu. Pun dengan kata ‘liqa’ sudah menjadi biasa dikalangan masyarakat. Sebuah perubahan jaman yang tak terasa tidak langsung oleh pengguna jaman, namun merupakan usaha-usaha yang sangat panjang dan tidak mudah dari para penggiat kedua sisi ini dalam merubah persepsi. Tinggal mau berada dimana kita berdiri dan berjuang, inilah makna dakwah kepenulisan. Sebuah pilihan seumur hidup. Dan FLP salah satu tempat yang saya perjuangkan bergabung untuk bersama-sama memberikan pengertian keadilan berdasarkan ajaran-Nya bukan makna adil yang tanpa konsekuensinya. Adil jika dunia memiliki sisi kiri dan kanan dengan porsi yang sama.

Hanum Salsabilla Rais, A. Fuadi, Felix Y Siauw, Salim A Fillah, dan banyak lagi penulis religius nan modern serta inspiratif yang bukan teluran dari FLP –sepengetahuan penulis miliki sekarang-. Namun bukan berarti FLP menjadi sia-sia. Sebuah pilihan adalah titik temu ketika ingin bergelut di ‘dunia’ ini, inginkah bergabung dalam sebuah komunitas dengan berbagai komunitas yang ada atau lebih baik bergerak individu. Dan disinilah FLP berperan ketika banyak massa yang ingin bergabung, kelolalah massa dengan warnanya, bentuk massa didalamnya mulai pemikiran, passion, hingga diluar keinginan pribadi massa. Harapan inilah yang akan penulis dapat, rumah cahaya yang dapat menciptakan berbagai jenis cahaya di dalam satu individu.

Inilah indahnya dakwah kepenulisan, merangkai kata menciptakan atmosfir budaya menulis dan membaca dan menguatkan keimanan kita kepada-Nya. Menduniakan aturan Al-Quran dengan lebih diterima. Menshalehkan penulis dan menuliskan keshalehan.


Rezha Budiman
6 November 2014.

Bagikan

Jangan lewatkan

Poros Gelombang Keadilan
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.