Minggu, 16 September 2018

Menulis kembali

Sering sekali diri ini hanya membuka lembaran putih di entrian blog ini. Terpaku, bingung merangkai kata. Padahal saat tidak dalam posisi menulis, banyak hal yang ingin dicurahkan. Ah wacana. Atau lebih kepada takut tulisan ini tak ada nilainya sama sekali.

Sudah empat bulan terhitung terakhir menulis, itu pun tulisan yang terstimulus oleh keadaan -yang akhirnya diriku sudah berdamai dengan keadaan.

Jadi teringat jumat pekan lalu, saat kumpul klub FLP. Materi yang kita bahas, apakah sebuah tulisan wajib ada nilainya? Saya mencoba memancing dengan meminta seluruh anggota klub memilih, iya, setengah-setengah atau tidak.

Dari 5 yang hadir, 2 menjawab iya ahrus ada nilai, 2 lainnya setengah-setengah dan 1 menjawab tidak.

Yang menjawab iya, kurang lebih mereka menyimpulkan bahwa tulisan itu harus ada nilainya agar dapat dinilai oleh orang lain sehingga tau bagaimana memperbaiki tulisannya menjadi lebih baik.

Yang menjawab setengah-setengah, kurang lebih mereka mencerna bahwa dalam menulis kadang kalimat yang mengalir begitu saja itu juga sama baiknya dengan tuisan yang sudah dirancang harus ada nilai yan tersampaikan.

Dan yang menjawab tidak, adalah saya. Yang sengaja mencari jawaban paling beda dari semua jawaban, agar menambah wawasan bersama. Saat itu saya hanya sekilas mengingat kalimat yang disampaikan tokoh Kica dalam buku Teman Imaji yang menjadi sandaran alasan saya menjawab tidak.

"Saya tidak ingin menjadi penulis, saya hanya ingin menjadi orang yang me-nu-lis"

Kurang lebih redaksinya seperti itu, kalau salah berarti harus ke-7 kali saya menamatkn buku ini haha..

Kenapa kalimat itu menjadi sandaran alasan saya? karena saya memaknai bahwa menulis ya menulis saja, tuangkan keluh kesah yan ada di hati, pikiran ataupun raga kita. Write, like no one's watching. Bahagiakan diri ini dengan yang membaut kita bahagia.

Tetapi, bukan berarti kita akan selalu menulis tidak bernilai. Jadikan tulisan tak bernilai itu sebagai pemantik untuk membiasakan menulis kembali. Biarkan huruf-huruf, kata, hingga kalima yang pernah dibaca dan ditabung di ingatan kita juga jatuh menjadi tulisan yang kita tulis.

Setelah semuanya menjadi biasa dan mencintainya lagi, naikkan level tulisanmu dengan membawa nilai, eyd rapih hingga ada plot/alur dalam bercerita. Buat apa hidup jika tidak kita isi nilai kan? jangan-jangan dari kertas putih yang mulai menghitam oleh kekhilafan kita, masih ada titik putih yang akan menyelamatkan di akhirat nanti. Sekecil biji sawi.

Oleh sebab itu, mulai petang hari ini, aku ingin menulis kembali, aku ingin mencintai kembali dunia tulis menulisku.. membacanya sudah kebanyakan Ja.


Dan jadikan kesukaanmu ini menjadi gen unggul untuk DNA anakmu kelak jika Allah izinkan. Buatlah gen unggul sebanyak mungkin pada dirimu, agar anakmu bisa lebih baik darimu, Jak.

Bagikan

Jangan lewatkan

Menulis kembali
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.