Selasa, 24 April 2018

Cerita: Yang Terbaik, Nay.



Lirik:

sebelumnya aku tak percaya
aku bisa mencapai puncak dunia
sebelumnya aku tak percaya
aku bisa menggapai bintang bintang angkasa

tapi kau selalu ada
memberikan ku kekuatan
untuk terus berjuang
menjadi yang terbaik

kaulah alasan aku bisa
kaulah alasan aku bertahan
untukmu aku persembahkan
semua yang terbaik dariku

yang terbaik dariku
tak pernah aku membayangkan
tuk hidup dalam mimpi
dan mimpiku semakin nyata

karena kau ada untukku oh untukku
kaulah alasan aku bisa
kaulah alasan aku bertahan
untukmu aku persembahkan
semua (yang terbaik dariku)

kaulah alasan aku bisa
kaulah alasan aku bertahan
untukmu aku persembahkan
semua yang terbaik dariku
dariku
yang terbaik dariku

Ngefiksi - Belajar Nulis Fiksi

"Jika dirimu di saat ini diberi pilihan untuk memiliki kekuatan super memutar waktu kembali, apakah kamu akan memakainya, Nay?" tanyanya random saat kami melihat berbagai komik di rak komik toko buku favorit kami.

"Hmm... " pikirku cukup lama, sambil mencari komik yang sudah aku incar untuk membelinya.
"Aha! Ini dia, komik yang tak cari. Bagus loh bagus.. dunia peri itu selalu menarik yaa---" 
"Huh! dicuekin lagi. Dan itu kan komik yang sudah kamu baca online di Webtoon" sanggahnya tanpa merespon komik yang aku tunjukkan ke dirinya. Dia kesal, dan aku selalu suka melihat muka kesalnya. Karena aku tau, kita akan baik-baik saja. Segera membaik

Dia pun meninggalkanku beserta komik-komik yang hampir satu jam bersamanya di rak buku favorit kami. Dia menuju rak buku anak-anak. Buku yang selalu ia beli walaupun tidak dibaca olehnya, dia hanya ingin menambah investasi masa depannya. Entah ketika bersamaku kelak.. ah tidak, paling untuk anak-anak di kampungnya. Toh, kita pun belum menjadi siapa-siapa.

"Hey! Masih ngambek kah?" tanyaku sambil menyenggol tas miliknya
"Nay! Nyebelin mulu ya kamu" jawabnya dengan raut muka yang aku takutkan, eh lebih membuatku khawatir.
"Dari awal kita ketemu, aku sudah dilahirkan nyebelin bagimu" candaku, usahaku mencairkan suasana. Dan dia pun mendiamkan candaku.

Aku pun mengambil buku anak-anak di rak buku seberang darinya, dengan nada melas memanggilnya, "Mas.. lihat sini dong!" Dan kali ini mukaku aku tutupin dengan buku anak-anak tadi yang berjudul "I'm Sorry". Jujur, aku khawatir dia marah walaupun aku tau kita pasti baik-baik saja.

Dia pun luluh, senyumnya mulai terlukiskan kembali di raut wajahnya. Ah, dia memang orang paling baik yang aku kenal sejak kecil bertetangga hingga sekarang bertemu kembali di bangku kuliah. Dia pemaaf sebelum aku meminta maaf. Umur yang dua tahun lebih tua dariku pun membuatnya lebih bijaksana meladeni diriku yang penuh drama kemanjaan. Dia selalu menjagaku, lebih dari seorang satpam deh hahaha...
"Nay, aku ingin mempunyai kekuatan memutar waktu." pancingnya untuk aku segera menjawab pertanyaannya yang sengaja aku diamkan.

"Aku tidak ingin mempunyai kekuatan itu, Mas" jawabku sambil memberikan senyum padanya.

"Tetapi.. lusa kita akan berpisah. Bagaimana pun cara yang sudah aku lakukan, tetap saja jawabannya nihil. Berpisah, Nay!" responnya kali ini cukup hampir menghancurkan tembok air mataku.

Senyumku tetap mengambang untuknya dan penguatanku

"Aku terbentuk saat ini itu karena berkumpulnya puzzle-puzzle masa lalu, Mas. Aku menjadi kuat saat ini karena masa lalu. Aku menjadi cerewet yang dulunya sangat pendiam saat SMP. Aku suka menulis, suka menggambar dan suka minum jus melon dan cokelat, itu juga karena masa lalu. Aku tak ingin hidup dimulai dari tujuan ke tempat asal. Berakhir di titik nol. Melupakan ilmu yang sudah diriku dapatkan saat ini, menjadi tidak kebal terhadap masalah-masalah dan yang terakhir... aku tidak tau akan bertemu dengan Mas dan teman-temanku yang lain." jawabku dengan pelan-pelan agar tak menjadi pertunjukan konser tangisan di toko buku ini. Tempat yang sama-sama kita jadikan tempat rekreasi jika stress.

"Aku ingin tetap berjuang di masa saat ini, dengan segala keadaan yang ada. Sering kali kita memang dibuat tak mengerti sebab kita memang tak perlu mengerti. Cukup jalankan dengan jalan yang terbaik." usahaku untuk menguatkan.

Dia pun merespon dengan senyumnya juga. Aku tau dia juga sudah kuat untuk menerima realita yang ada. Kita hanya perlu saling memberi kabar, bahwa kita akan baik-baik saja. Walaupun tak sebaik yang kita inginkan.

"Baik-baik yaa kita, Nay. Mari kita pulang, dan bantu persiapan pernikahan Ayah Ibu kita di tempat masing-masing."

Akhirnya, dia mengatakan kalimat itu. Dan aku melihat wajah yang penuh dengan keikhlasan. Aku lega, selega mendapatkan air minum ditengah kelelahan. Lelah menerima realita.

"Jadi mau beli buku 'I'm Sorry' tadi, Nay?"
"Gaak laah! Itu cuman cara eleganku mencari maaf darimu, Mas, hahaha.."
"Yee, dasar jelek kayak bebek kwek kwek"

Kami pun pergi dengan belanjaan masing-masing ditemani iringan lirik lagu yang didengungkan oleh pengeras suara milik toko buku. Satu kendaraan menuju ke barat dan satu lagi menuju ke timur.

kaulah alasan aku bisa
kaulah alasan aku bertahan
untukmu aku persembahkan 
semua yang terbaik dariku

Aku pun berbisik pada diriku sendiri saat perjalanan pulang, kita tau bahwa kita tidak dilarang juga untuk bersatu oleh ajaran agama yang kita yakini, tetapi kita memilih untuk bersama kebahagiaan keluarga besar, bukan hanya untuk Bapakku, juga untuk Ibunya. Semoga baik-baik selalu.

Toh, kita akan menjadi 'siapa-siapa'. Sebagai kakak adik tiri. Yang terbaik.
 

Baca selengkapnya

Kamis, 05 April 2018

Senin, 02 April 2018

Review Buku: Startupreneur. Menjadi Enterpreneur Startup Karya Hendry E. Ramdhan

Judul Buku: Startupreneur. Menjadi Enterpreuner Startup

Penulis: Hendry E. Ramdhan

Penerbit: Penerbar Plus

Tahun Terbit: Cetakan kedua, 2016

Jumlah Halaman: 203 Halaman


Tak dapat dipungkiri, generasi milineal akanlah sangat dekat dengan kata Startupreneur dibandingkan para generasi x,y dan z. Sebuah wacana besar berhasil dihembuskan di seluruh dunia, yang entah berawal dari mana pada era sekarang. “Aku ingin menghasilkan penghasilan dari passion yang aku mau, atau aku ingin bekerja dari rumah saja, dan berbagai kalimat sejenis akan sering didengar dan tersampaikan dari mulut para generasi milineal.

Namun, taukah bahwa tak banyak juga orang/sekumpulan orang yang berhasil mewujudkan impian Startup yang ia inginkan. Inilah fakta yang disampaikan oleh Bang Hendra di dalam bukunya yang berjudul Startupreneur. Menjadi Enterpreuneur Startup. Mereka hanya menjalankan keinginan tanpa sebuah rencana yang matang dan jelas. Bang Hendra yang sudah sejak tahun 2004 menekuni dunia bisnis juga pernah merasakan kegagalan. Hingga di lima tahun terkahir, beliau berhasil menekuni bisnis di bidang suplai alat dan bahan laboratorium, yang pada akhirnya bisnis ini menjadi tiket dirinya untuk diundang menjadi perwakilan satu-satuya dari Indonesia dalam program Stanford Go-to-Market yang diadakan oleh sekolah bisnis terkemuka di dunia.

Pengalaman selama ia mendapatkan materi secara mendalam dan gratis ini, ia tuangkan dalam 16 chapter di dalam buku terbitan Penerbit Penebar Plus. Materi yang ia dapatkan –dan juga ia sampaikan di buku ini, tak tanggung-tanggung dari para penggiat startup kelas dunia. Seperti Google, Yahoo, eBay, Linkedin, dan Netflix.

Dimulai dari Pre-Chapter yang berisi ‘perpustakaan’ istilah-istilah yang sering digunakan dalm dunia Startup, sehingga pembaca awam akan paham jika terdapat istilah yang muncul di setiap chapter pembahasan. Lalu dilanjut chapter 1 dan chapter 2 mengenai bagaimana membangun strategi dalam memulai startup agar tidak berujung pada kesia-siaan. Teori yang ia paparkan adalah Design Thinking. Chapter 3 sampai chapter 6 membahas teknis-teknis yang harus dilakukan untuk merealisasikan ide yang telah diputuskan di awal. Seperti; Bagaimana membangun tim terbaik, Manajemen Keuangan, Manajemen Enterprenurship dan terakhir penetuan target pasar. Dan terakhir, bagian chapter 7 sampai chapter terakhir lebih memuat “Bagaimana strategi marketing yang berhasil?”. Dimulai dari riset pasar hingga belajar dari media-media startup yang telah sukses berhasil.

Selain itu, di setiap pergantian chapter akan ada satu halaman yang berisi satu wajah tokoh startup yang telah sukses beserta pesan/quote yang bagi saya sangat membantu untuk menumbuhkan rasa optimisme untuk memulai startup yang akan saya jalani.

Namun dibalik value buku yang sangat cocok dengan judulnya bagi saya, masih ada beberapa kekurangan yang saya rasakan. Bahasa yang digunakan penulis dalam pemaparan per chapter-nya masih menggunakan bahasa ‘dewa’, yang di mana orang awam –seperti saya masih membutuhkan waktu untuk membuka kembali bab pre-chapter atau mencari di mesin pencari. Dan kurang memakai trik menganalogikan sesuatu yang sederhana dalam menjelaskan teori/istilah-istilah yang dikeluarkan, sehingga mengurangi eror kesalahpahaman pengetahuan/informasi dan memudahkan pemaparan untuk dimengerti.

Bukan berarti buku ini tidak termasuk dalam buku yang akan saya rekomendasikan ke kawan-kawan jika ingin memulai startup. Saya sebagai orang awam merasakan diajarkan tahap demi tahap agar tidak membuat lubang yang besar hingga tidak jatuh dalam penyesalan. Dan buku ini adalah salah satu refrensinya.

Sedikit trik yang ingin saya bagikan untuk membaca buku ini untuk tidak bosan mengambil ilmunya adalah baca sesuai dengan kebutuhan/keinginan kalian. Tak perlu membaca dari ­pre-chapter berurut hingga chapter terakhir. Loncat-loncatlah di setiap bagian dalam membaca. Dan janganlah lupa untuk melakukannya, karena dapat dikatakan startup ketika ia berhasil dijalankan dengan konsisten, bukan sekedar dimulai.

Mari bekerja sesuai dengan rencana yang kita buat, bukan sekedar terikut arus ataupun gegabah. Agar tak menjadi generasi milineal yang gagal.

“Any time is a good time to start a company” – Ron Conway, Noted Startup Investor.
Baca selengkapnya

Poros Gelombang Keadilan

Didekasikan dalam seleksi calon anggota FLP Yogyakarta X6

“ Aku, FLP dan Dakwah Kepenulisan “ 


Tak semua orang berilmu bisa menuangkan ilmunya dalam tulisan, dan tak semua yang terbiasa menulis bisa berisi ilmu didalamnya. Dan ilmu bukanlah sesuatu yang saklek berisi sebuah rumus fisika ataupun sebuah teori pemikiran konspirasi, bukan.. bukan.. bukan serumit itu. Renungan komik, kumpulan kenangan, ataupun candaan bersama kawan bisa kita buat itu menjadi ilmu, sederhana. Menginspirasi adalah cara memberi ilmu yang paling menguntungkan, dari sudut pemberi dan penerima, karena saat itu pula terjadi transfer positif tanpa bertemu. Efek samping dari vitamin sebuah tulisan. Namun tak semua manusia di dunia ini bersifat malaikat, yang selalu bersemangat mencari senyuman kebaikan. Mereka pun masih ada yang memiliki perilaku iblis, mungkin muka tak bengis namun tulisan mereka miris. Politik devide et empera pun menjadi akhlak mereka, menghilangkan rasa adil dalam hati mereka sudahlah biasa. Selain itu pula ada yang menyesatkan pikiran, hingga perilaku. Yaa.. inilah dunia bukanlah surga ataupun neraka, yang memiliki satu jenis penduduk.

Aku. Sebuah subjek ataupun objek, tergantung bagaimana yang diinginkan dari kata aku itu sendiri. Memilih terdiam menikmati putaran kenikmatan atau bergerak melawan putaran kemaksiatan. Dan aku memilih tulisan ini hadir dengan segala kekurangan yang kumiliki, dengan modal awal bismillah, dakwah kepenulisan ini kujalani. Tulisan tak ber-EYD dengan benar, kalimat boros yang selalu muncul, ataupun kemalasan menuangkan pikiran adalah bekal alasan FLP menjadi tempat tulisan ini dikirim. Pengingat dikala lupa menjangkit, pelurus dikala penerus kemaksiatan berjalan, dan penyemangat dikala kata itu tak ada. Semoga berkah, dan mendapat kritikan terhadap tulisan ini seminimal harapan.

Forum Lingkar Pena, salah satu poros kepenulisan yang semakin bermanfaat dikala jaman menulis paragraf telah berevolusi dengan budaya 160 karakter ataupun status “ Apa Yang Anda Pikirkan “. Warnanya pun jelas dengan bungkus yang tak membuat orang jauh dari karya-karya para pejuang tinta di FLP ini. Dakwah, islam, belajar menginspirasi dan gaul merakyat. Di kala banyak penulis mulai dari inlander ataupun pribumi merebak dengan pemikiran kiri dengan bungkus menarik yang dapat mengubah pola pikir secara tidak langsung bagi yang tidak sadar, FLP hadir sebagai penelur penulis-penulis muda yang dapat mewarnai kekhawatiran di jaman sekarang ini. Sehingga budaya mengabadikan kebaikan dalam tulisan bisa bertahan hingga mewariskan ke jaman-jaman kedepan yang semakin memanjakan manusia dengan segala kemudahan yang didapat, di jaman menunduk bukan untuk menulis namun membaca.

Memberi, mengarahkan hingga membentuk opini khalayak pembaca adalah pekerjaan media. Entah berupa tulisan non-fiksi ataupun fiksi. Dan sudah menjadi hal biasa sekarang mendengar kata ‘porno’ dibandingkan di jaman dahulu. Pun dengan kata ‘liqa’ sudah menjadi biasa dikalangan masyarakat. Sebuah perubahan jaman yang tak terasa tidak langsung oleh pengguna jaman, namun merupakan usaha-usaha yang sangat panjang dan tidak mudah dari para penggiat kedua sisi ini dalam merubah persepsi. Tinggal mau berada dimana kita berdiri dan berjuang, inilah makna dakwah kepenulisan. Sebuah pilihan seumur hidup. Dan FLP salah satu tempat yang saya perjuangkan bergabung untuk bersama-sama memberikan pengertian keadilan berdasarkan ajaran-Nya bukan makna adil yang tanpa konsekuensinya. Adil jika dunia memiliki sisi kiri dan kanan dengan porsi yang sama.

Hanum Salsabilla Rais, A. Fuadi, Felix Y Siauw, Salim A Fillah, dan banyak lagi penulis religius nan modern serta inspiratif yang bukan teluran dari FLP –sepengetahuan penulis miliki sekarang-. Namun bukan berarti FLP menjadi sia-sia. Sebuah pilihan adalah titik temu ketika ingin bergelut di ‘dunia’ ini, inginkah bergabung dalam sebuah komunitas dengan berbagai komunitas yang ada atau lebih baik bergerak individu. Dan disinilah FLP berperan ketika banyak massa yang ingin bergabung, kelolalah massa dengan warnanya, bentuk massa didalamnya mulai pemikiran, passion, hingga diluar keinginan pribadi massa. Harapan inilah yang akan penulis dapat, rumah cahaya yang dapat menciptakan berbagai jenis cahaya di dalam satu individu.

Inilah indahnya dakwah kepenulisan, merangkai kata menciptakan atmosfir budaya menulis dan membaca dan menguatkan keimanan kita kepada-Nya. Menduniakan aturan Al-Quran dengan lebih diterima. Menshalehkan penulis dan menuliskan keshalehan.


Rezha Budiman
6 November 2014.
Baca selengkapnya

Istiqomah Menulis


"Menulis itu bukanlah perkara yang mudah, bagi seseorang yang suka banget menulis pun jika dalam jangka satu tahun ia memilih rehat menulis, kemudian ia mencoba untuk menulis kembali, pasti sangatlah susah. Ia akan memulainya dari 0 jua. Oleh sebab itu, menulis juga perkara kebiasaan yang dibiasakan."

Pernyataan yang disampaikan Ibu Ketua FLP Yogya, Maruti Ahs, benar adanya. Selain terkait menulis itu harus berlandaskan kejujuran, menulis juga harus berlandaskan pada rutinitas. Kalau kata Irsyad, kawan di kepengurusan harian FLP Yogya, "Jenis tulisan yang paling susah ditulis seorang penulis adalah menuliskan sebuah diary hariannya."

Sudah hampir sepuluh tahun sesungguhnya saya sudah mlipir dari kebiasaan menulis. Masih ingat sekali jaman dahulu, setiap hari ada saja yang dicurahkan dalam tulisan, walaupun jika dibaca sekarang akan saya tertawai isinya, penuh dengan sifat keanak-anakan dan tentunya penuh dengan ke-alay-an saya. Namun saya merindukan masa-masa itu, tulis dan menulis adalah rutinitas.

Tiga tahun lalu pun saya mencoba untuk mengaktifkan kecintaan saya dalam dunia literasi dengan bergabung FLP Yogyakarta (terkhusus gengs Anak Senja), lalu membantu gerakan Melimove (Media and Literacy Movement) untuk berkembang. Namun itu semua masih saja belum memunculkan rutinitas itu, malah semakin membuat saya tidak pernah menulis. Semua kegiatan saya disana tersibukkan oleh sebuah kata "mengorganisir". Yap! Saya kembali lagi tersibukkan mengurusi hal-hal sistem, ini bukanlah salah kedua rumah itu. Tetapi sayanya yang belum bisa tega untuk kadang lebih memilih berkarya dibandingkan 'gatel' ketika ada hal yang tidak beres diselesaikan (entah ditinggal pergi oleh si pemegang amanah atau tidak sempurna dalam penggarapannya) padahal itu bukanlah amanah saya.

Saya terjebak! Pada pusaran yang selalu sama, yaitu rasa tidak tega, rasa peduli yang berlebih.

Saya pernah mencoba untuk menekan diri dengan membeli akun domain yang tentunya mengeluarkan uang per tahunnya. Saat itu saya pikir diri ini akan makin bersemangat dalam merangkai kata menjadi kalimat dari berbagai ide yang sudah berkecamuk dalam kepala. Ya, itu yang saya pikir, realita? hahaha.. saya hanya melahirkan sekitar sepuluh tulisan dalam waktu 365 hari. Dan hasilnya... Gagal! Bukan hanya tidak menumbuhkan rutinitas tersebut, namun uang pun terbakar tanpa hasil.

Dan mungkin inilah tantangan istiqomah dalam menulis yang diuji kepada saya, buatlah waktu khusus untuk menulis. Bukan terletak pada harus berdomain rumah untuk coretan kepedulian saya, dan bukan juga terletak pada saya berada di komunitas apa. Semuanya pada diri ini, apakah mau menjadi bagian kelompok kufur nikmat atau geng syukur nikmat yang telah diberikan oleh-Nya.

Dan setiap orang yang ingin menulis akan menemukan tantangan istiqomahnya masing-masing. Ada yang takut tulisannya 'tidak bermanfaat' ketika dibaca orang, ada yang kalau nulis suka menjadi editor langsung sehingga tulisannya tak terbit-terbit, ada yang tidak punya akses internet, ada yang belum tau cara membuat blog, dan lain lain deh~

Epilog

Jangan jadi layaknya sebatang lilin, ia berhasil membuat benderang suatu ruangan gelap. Mata pun dapat saling memandang antar mata dalam ruangan yang sebelumnya gelap. Tetapi sebatang lilin ini kehilangan dirinya, karena bahan benderangnya berasal dari diri sendiri. Makin memendek tinggi dari sebatang lilin ini hingga akhirnya ruangan itu menjadi gelap kembali.


Pedulilah pada diri sendiri, tetapi tidak mengutamakan ego diri. Atur hidupmu sebelum waktu yang mengatur diri ini. Kemudian azzamkan sekuat-kuatnya hingga merasuk dalam mimpi-mimpi di alam tidur, lalu tundukkan hati dan ego di hadapan-Nya. Agar Ia selalu memudahkan azzam diri ini berjalan.

Saya rindu menulis, dan saya rindu berbagi. Izinkan rindu ini bertemu dengan yang dirindukan.

Mengutip pesan yang selalu teringat hingga sekarang, saat setahun yang lalu ingin pamit dari dunia kepenulisan. Saat itu, saya baru saja diwisuda-in oleh UGM, Ia berkata "Tetaplah menulis agar kabarmu selalu terkabari, sehingga mudah dicari".

Dan.. saya akan menepati janji itu. InsyaAllah.


Baca selengkapnya