Senin, 02 April 2018

Istiqomah Menulis


"Menulis itu bukanlah perkara yang mudah, bagi seseorang yang suka banget menulis pun jika dalam jangka satu tahun ia memilih rehat menulis, kemudian ia mencoba untuk menulis kembali, pasti sangatlah susah. Ia akan memulainya dari 0 jua. Oleh sebab itu, menulis juga perkara kebiasaan yang dibiasakan."

Pernyataan yang disampaikan Ibu Ketua FLP Yogya, Maruti Ahs, benar adanya. Selain terkait menulis itu harus berlandaskan kejujuran, menulis juga harus berlandaskan pada rutinitas. Kalau kata Irsyad, kawan di kepengurusan harian FLP Yogya, "Jenis tulisan yang paling susah ditulis seorang penulis adalah menuliskan sebuah diary hariannya."

Sudah hampir sepuluh tahun sesungguhnya saya sudah mlipir dari kebiasaan menulis. Masih ingat sekali jaman dahulu, setiap hari ada saja yang dicurahkan dalam tulisan, walaupun jika dibaca sekarang akan saya tertawai isinya, penuh dengan sifat keanak-anakan dan tentunya penuh dengan ke-alay-an saya. Namun saya merindukan masa-masa itu, tulis dan menulis adalah rutinitas.

Tiga tahun lalu pun saya mencoba untuk mengaktifkan kecintaan saya dalam dunia literasi dengan bergabung FLP Yogyakarta (terkhusus gengs Anak Senja), lalu membantu gerakan Melimove (Media and Literacy Movement) untuk berkembang. Namun itu semua masih saja belum memunculkan rutinitas itu, malah semakin membuat saya tidak pernah menulis. Semua kegiatan saya disana tersibukkan oleh sebuah kata "mengorganisir". Yap! Saya kembali lagi tersibukkan mengurusi hal-hal sistem, ini bukanlah salah kedua rumah itu. Tetapi sayanya yang belum bisa tega untuk kadang lebih memilih berkarya dibandingkan 'gatel' ketika ada hal yang tidak beres diselesaikan (entah ditinggal pergi oleh si pemegang amanah atau tidak sempurna dalam penggarapannya) padahal itu bukanlah amanah saya.

Saya terjebak! Pada pusaran yang selalu sama, yaitu rasa tidak tega, rasa peduli yang berlebih.

Saya pernah mencoba untuk menekan diri dengan membeli akun domain yang tentunya mengeluarkan uang per tahunnya. Saat itu saya pikir diri ini akan makin bersemangat dalam merangkai kata menjadi kalimat dari berbagai ide yang sudah berkecamuk dalam kepala. Ya, itu yang saya pikir, realita? hahaha.. saya hanya melahirkan sekitar sepuluh tulisan dalam waktu 365 hari. Dan hasilnya... Gagal! Bukan hanya tidak menumbuhkan rutinitas tersebut, namun uang pun terbakar tanpa hasil.

Dan mungkin inilah tantangan istiqomah dalam menulis yang diuji kepada saya, buatlah waktu khusus untuk menulis. Bukan terletak pada harus berdomain rumah untuk coretan kepedulian saya, dan bukan juga terletak pada saya berada di komunitas apa. Semuanya pada diri ini, apakah mau menjadi bagian kelompok kufur nikmat atau geng syukur nikmat yang telah diberikan oleh-Nya.

Dan setiap orang yang ingin menulis akan menemukan tantangan istiqomahnya masing-masing. Ada yang takut tulisannya 'tidak bermanfaat' ketika dibaca orang, ada yang kalau nulis suka menjadi editor langsung sehingga tulisannya tak terbit-terbit, ada yang tidak punya akses internet, ada yang belum tau cara membuat blog, dan lain lain deh~

Epilog

Jangan jadi layaknya sebatang lilin, ia berhasil membuat benderang suatu ruangan gelap. Mata pun dapat saling memandang antar mata dalam ruangan yang sebelumnya gelap. Tetapi sebatang lilin ini kehilangan dirinya, karena bahan benderangnya berasal dari diri sendiri. Makin memendek tinggi dari sebatang lilin ini hingga akhirnya ruangan itu menjadi gelap kembali.


Pedulilah pada diri sendiri, tetapi tidak mengutamakan ego diri. Atur hidupmu sebelum waktu yang mengatur diri ini. Kemudian azzamkan sekuat-kuatnya hingga merasuk dalam mimpi-mimpi di alam tidur, lalu tundukkan hati dan ego di hadapan-Nya. Agar Ia selalu memudahkan azzam diri ini berjalan.

Saya rindu menulis, dan saya rindu berbagi. Izinkan rindu ini bertemu dengan yang dirindukan.

Mengutip pesan yang selalu teringat hingga sekarang, saat setahun yang lalu ingin pamit dari dunia kepenulisan. Saat itu, saya baru saja diwisuda-in oleh UGM, Ia berkata "Tetaplah menulis agar kabarmu selalu terkabari, sehingga mudah dicari".

Dan.. saya akan menepati janji itu. InsyaAllah.


Bagikan

Jangan lewatkan

Istiqomah Menulis
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.

2 komentar

Tulis komentar