Lirik:
sebelumnya aku tak percaya
aku bisa mencapai puncak dunia
sebelumnya aku tak percaya
aku bisa menggapai bintang bintang angkasa
tapi kau selalu ada
memberikan ku kekuatan
untuk terus berjuang
menjadi yang terbaik
kaulah alasan aku bisa
kaulah alasan aku bertahan
untukmu aku persembahkan
semua yang terbaik dariku
yang terbaik dariku
tak pernah aku membayangkan
tuk hidup dalam mimpi
dan mimpiku semakin nyata
karena kau ada untukku oh untukku
kaulah alasan aku bisa
kaulah alasan aku bertahan
untukmu aku persembahkan
semua (yang terbaik dariku)
kaulah alasan aku bisa
kaulah alasan aku bertahan
untukmu aku persembahkan
semua yang terbaik dariku
dariku
yang terbaik dariku
Ngefiksi - Belajar Nulis Fiksi
"Jika dirimu di saat ini diberi pilihan untuk memiliki kekuatan super memutar waktu kembali, apakah kamu akan memakainya, Nay?" tanyanya random saat kami melihat berbagai komik di rak komik toko buku favorit kami.
"Hmm... " pikirku cukup lama, sambil mencari komik yang sudah aku incar untuk membelinya.
"Aha! Ini dia, komik yang tak cari. Bagus loh bagus.. dunia peri itu selalu menarik yaa---"
"Huh! dicuekin lagi. Dan itu kan komik yang sudah kamu baca online di Webtoon" sanggahnya tanpa merespon komik yang aku tunjukkan ke dirinya. Dia kesal, dan aku selalu suka melihat muka kesalnya. Karena aku tau, kita akan baik-baik saja. Segera membaik
Dia pun meninggalkanku beserta komik-komik yang hampir satu jam bersamanya di rak buku favorit kami. Dia menuju rak buku anak-anak. Buku yang selalu ia beli walaupun tidak dibaca olehnya, dia hanya ingin menambah investasi masa depannya. Entah ketika bersamaku kelak.. ah tidak, paling untuk anak-anak di kampungnya. Toh, kita pun belum menjadi siapa-siapa.
"Hey! Masih ngambek kah?" tanyaku sambil menyenggol tas miliknya
"Nay! Nyebelin mulu ya kamu" jawabnya dengan raut muka yang aku takutkan, eh lebih membuatku khawatir.
"Dari awal kita ketemu, aku sudah dilahirkan nyebelin bagimu" candaku, usahaku mencairkan suasana. Dan dia pun mendiamkan candaku.
Aku pun mengambil buku anak-anak di rak buku seberang darinya, dengan nada melas memanggilnya, "Mas.. lihat sini dong!" Dan kali ini mukaku aku tutupin dengan buku anak-anak tadi yang berjudul "I'm Sorry". Jujur, aku khawatir dia marah walaupun aku tau kita pasti baik-baik saja.
Dia pun luluh, senyumnya mulai terlukiskan kembali di raut wajahnya. Ah, dia memang orang paling baik yang aku kenal sejak kecil bertetangga hingga sekarang bertemu kembali di bangku kuliah. Dia pemaaf sebelum aku meminta maaf. Umur yang dua tahun lebih tua dariku pun membuatnya lebih bijaksana meladeni diriku yang penuh drama kemanjaan. Dia selalu menjagaku, lebih dari seorang satpam deh hahaha...
"Nay, aku ingin mempunyai kekuatan memutar waktu." pancingnya untuk aku segera menjawab pertanyaannya yang sengaja aku diamkan.
"Aku tidak ingin mempunyai kekuatan itu, Mas" jawabku sambil memberikan senyum padanya.
"Tetapi.. lusa kita akan berpisah. Bagaimana pun cara yang sudah aku lakukan, tetap saja jawabannya nihil. Berpisah, Nay!" responnya kali ini cukup hampir menghancurkan tembok air mataku.
Senyumku tetap mengambang untuknya dan penguatanku,
"Aku terbentuk saat ini itu karena berkumpulnya puzzle-puzzle masa lalu, Mas. Aku menjadi kuat saat ini karena masa lalu. Aku menjadi cerewet yang dulunya sangat pendiam saat SMP. Aku suka menulis, suka menggambar dan suka minum jus melon dan cokelat, itu juga karena masa lalu. Aku tak ingin hidup dimulai dari tujuan ke tempat asal. Berakhir di titik nol. Melupakan ilmu yang sudah diriku dapatkan saat ini, menjadi tidak kebal terhadap masalah-masalah dan yang terakhir... aku tidak tau akan bertemu dengan Mas dan teman-temanku yang lain." jawabku dengan pelan-pelan agar tak menjadi pertunjukan konser tangisan di toko buku ini. Tempat yang sama-sama kita jadikan tempat rekreasi jika stress.
"Aku ingin tetap berjuang di masa saat ini, dengan segala keadaan yang ada. Sering kali kita memang dibuat tak mengerti sebab kita memang tak perlu mengerti. Cukup jalankan dengan jalan yang terbaik." usahaku untuk menguatkan.
Dia pun merespon dengan senyumnya juga. Aku tau dia juga sudah kuat untuk menerima realita yang ada. Kita hanya perlu saling memberi kabar, bahwa kita akan baik-baik saja. Walaupun tak sebaik yang kita inginkan.
"Baik-baik yaa kita, Nay. Mari kita pulang, dan bantu persiapan pernikahan Ayah Ibu kita di tempat masing-masing."
Akhirnya, dia mengatakan kalimat itu. Dan aku melihat wajah yang penuh dengan keikhlasan. Aku lega, selega mendapatkan air minum ditengah kelelahan. Lelah menerima realita.
"Jadi mau beli buku 'I'm Sorry' tadi, Nay?"
"Gaak laah! Itu cuman cara eleganku mencari maaf darimu, Mas, hahaha.."
"Yee, dasar jelek kayak bebek kwek kwek"
Kami
pun pergi dengan belanjaan masing-masing ditemani iringan lirik lagu
yang didengungkan oleh pengeras suara milik toko buku. Satu kendaraan
menuju ke barat dan satu lagi menuju ke timur.
kaulah alasan aku bisa
kaulah alasan aku bertahan
untukmu aku persembahkan
semua yang terbaik dariku
Aku pun berbisik pada diriku sendiri saat perjalanan pulang, kita tau bahwa kita tidak dilarang juga untuk bersatu oleh ajaran agama yang kita yakini, tetapi kita memilih untuk bersama kebahagiaan keluarga besar, bukan hanya untuk Bapakku, juga untuk Ibunya. Semoga baik-baik selalu.
Toh, kita akan menjadi 'siapa-siapa'. Sebagai kakak adik tiri. Yang terbaik.
Bagikan
Cerita: Yang Terbaik, Nay.
4/
5
Oleh
Unknown

